Kembar Tak Jumpa

Ibu katakan

Kalau nanti nafas usai dan mata kupejamkan

Ia tak kan sedih pilu

Atau menangis sedu

 

Ayah katakan

Kasihnya tak sampai padaku dalam cengkraman

“Kau tak pernah sayang padaku”

Serakku menunduk malu – malu

 

Lalu aku menghadap Tuhan

Mencari perlindungan bak merasa aman

Tuhan bilang aku tidak cuma satu

Wujudku dua dipisahkan Ayah dan Ibu

 

Ayah Ibu lalu jujur katakan

Bahwa aku ini punya kembaran

Tidak disatukan karena mereka tak mampu

Bayar uang bayar utang beli ini itu

Advertisements

Aku ada untuk apa?

Aku benci ketika saat aku menulis

Barisan kata bak mengundang air mata merasuki diri

Aku benci ketika aku mulai menulis

Pikiranku kacau tak mau berhenti

 

Memang serumit ini

 

Lalu aku berfikir kembali

Ketika senang, aku datang menyalami

Ketika sedih, aku datang mempersenangi

Ketika bingung, aku datang memberi instruksi

Ketika sakit, aku yang lebih sakit layak orang mati suri

Ketika semua orang pergi, aku yang paling setia menemani

Ketika dunia sembunyi, aku satu – satunya yang tersenyum kau hadapi

 

Semua itu ku lakukan tanpa kau sadari

Semua itu ku lakukan tanpa imbalan kembali

Ketika hasrat manusia yang tak pernah berpuas diri

Buat kau jadi terlalu sibuk mencari

Sampai – sampai lupa ya ada aku disini?

 

Lalu

Aku ada untuk apa ya?

 

Semesta Menjawab

Tidak ada satu orang pun yang dapat kau percayai di tanah bulat ini, Kawan

Bahkan ketika anda menoleh ke kanan

Teman saja bisa berbuat, berlari, dan melempar kesalahan

Tidak ada satu orang pun yang dapat kau jaga kata – katanya, Teman

Bahkan ketika anda kelaparan

Orang orang berada berdiri dengan tatapan hina tak mau memberi

Tidak ada satu orang pun yang dapat kau kasihi, Bung!

Bahkan seorang Ibu pun bisa saja keji

“Kau bukan anakku, kau bukan darah dagingku”

 

Lalu

Siapa yang bisa diajak berbagi?

Siapa yang akan selalu ada saat anda terpaku lirih?

Gelengan keras saya kepada manusia lain diluar sana

Tidak ada seorang pun yang akan selalu ada tanpa imbalan

Tanpa satu butir kemauan yang akan dimintai esok hari

 

Lalu, bagaimana?

Ah, biarkan semesta yang menjawab

Semesta yang anda tinggali

Yang selalu anda mintai

Tapi yang anda khianati

Semesta yang selalu setia menemani hari.